Laporan Prabawa Antar Bayi Sakit Dapat Pertolongan. Kasat Pol PP : “Apa Pun Persoalan Warga, Sampaikan”

BENGKULU – Program Praja Wibawa Pembina Warga (Prabawa) yang ditempatkan di setiap kelurahan di Kota Bengkulu kembali menunjukkan perannya dalam merespons persoalan masyarakat.

Kali ini, laporan anggota Prabawa Kelurahan Kandang mengenai seorang bayi berusia tiga bulan yang sedang sakit mendapat tindak lanjut hingga bayi tersebut akhirnya diberangkatkan ke Palembang untuk menjalani pengobatan.

Bayi bernama Muh Abizar Alfatih, putra pasangan Sumardi dan Soleha, warga RT 01 RW 01 Kelurahan Kandang, diketahui menderita penyakit penyempitan empedu. Salah satu lengannya juga mengalami pembengkakan.

Kondisi tersebut sebelumnya telah mendapat pemeriksaan dan perawatan di RS UMMI serta RSUD M. Yunus Bengkulu. Dari pemeriksaan medis, Abizar kemudian mendapat rujukan untuk menjalani penanganan lebih lanjut di RS M. Husein Palembang.

Namun, keluarga sempat terkendala biaya sehingga keberangkatan belum dapat dilakukan. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian Kasat Pol PP Kota Bengkulu Sahat Marulitua Situmorang setelah menerima laporan dari anggota Prabawa Kelurahan Kandang.

Sahat menjelaskan, laporan tersebut merupakan bagian dari pemantauan rutin terhadap kinerja 67 anggota Prabawa yang tersebar di 67 kelurahan di Kota Bengkulu.

“Awalnya saya memonitor pekerjaan-pekerjaan dari 67 Prabawa di 67 kelurahan. Setiap hari saya monitor dan saya terima setiap laporan-laporannya,” kata Sahat.

Dari laporan Prabawa Kelurahan Kandang, Sahat kemudian meminta agar kondisi Abizar terus dipantau. Anggota Prabawa bersama lurah dan RT juga turun langsung melihat kondisi bayi tersebut.

Dari pemantauan itu, kondisi Abizar dinilai membutuhkan perhatian lebih sehingga laporan segera diteruskan kepada Kasat Pol PP.

“Beliau menyampaikan ada hal yang perlu Kepala Satpol PP hadir terhadap keadaan ini supaya ada penanganan, karena sejak tanggal 2 September rujukan dari Rumah Sakit M. Yunus belum bisa berangkat karena terkendala biaya,” jelasnya.

Sahat kemudian turun langsung menemui keluarga Abizar. Setelah dilakukan asesmen dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, keberangkatan Abizar bersama kedua orangtuanya ke Palembang akhirnya difasilitasi.

Sabtu (12/9/2026) pagi, Sahat bersama istrinya, drg. Kernawati Sianturi, kembali mendatangi kediaman keluarga Abizar untuk melepas keberangkatan mereka.

Sahat juga memastikan kondisi keluarga selama berada di Palembang. Sebelum mobil travel tiba, ia melakukan video call dengan anggota Satpol PP Palembang yang berjaga di rumah singgah untuk memastikan kebutuhan transportasi dan makanan bagi orangtua Abizar dapat terpenuhi.

Menurut Sahat, apa yang dilakukan Prabawa merupakan bagian dari semangat PALUGADA atau “Apa yang Warga Perlu, Satpol PP Selalu Ada”.

Ia menilai keberadaan Prabawa menjadi pelengkap sistem pelayanan masyarakat yang sudah ada di tingkat kelurahan.

“Wali Kota menyampaikan, sekarang tatanan kita sudah lengkap, ada lurah, ada RT, ada Babinsa, Bhabinkamtibmas. Tapi kita tambah warnanya, menyempurnakan pelayanan yang ada di Kota Bengkulu dengan hadirnya Prabawa,” ujarnya.

Sahat mengimbau masyarakat Kota Bengkulu tidak ragu menyampaikan persoalan yang membutuhkan bantuan kepada anggota Prabawa di masing-masing kelurahan.

“Jadi warga Kota Bengkulu jangan ragu, apa pun persoalan atau masalah yang membutuhkan bantuan, sampaikan langsung ke Prabawa di kelurahannya, atau bisa juga langsung hubungi nomor Kasatnya,” tegas Sahat.

Ia menambahkan, anggota Prabawa berada di setiap kelurahan dan dapat dihubungi masyarakat ketika membutuhkan bantuan.

“Prabawa ada di setiap kelurahan, temui, hubungi mereka, simpan nomornya. Ada kesulitan, Prabawa punya semangat PALUGADA,” pungkasnya.

Sementara itu, ayah Abizar, Sumardi, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Bengkulu, Kasat Pol PP, lurah dan Ketua RT yang telah membantu keluarganya.

“Saya banyak terima kasih kepada Bapak Wali Kota, Bapak Kasatpol PP, Pak Lurah, Pak RT yang telah menolong saya, membantu saya untuk berobat anak saya ke Palembang,” ujar Sumardi.

Ia mengaku terharu karena persoalan yang awalnya hanya disampaikan kepada Ketua RT tersebut akhirnya mendapat perhatian hingga ke tingkat Pemerintah Kota Bengkulu.

Kisah Abizar sekaligus menjadi gambaran bagaimana laporan dari tingkat lingkungan dapat bergerak cepat melalui Prabawa hingga mendapatkan penanganan dari pemerintah, sesuai semangat PALUGADA yang diusung Satpol PP Kota Bengkulu.(**)